Oknum di Afdeling IV Pulu Raja Ada Dugaan Gelapkan Dana Pemeliharaan

  • Share
Ket foto: Terlihat pemandangan diareal Kebun Tanaman Belum Menghasilkan (TBM 1) tidak jauh dari lokasi Kantor Afdeling IV Kebun Pulu Raja, Kabupaten Asahan.

Asahan, MEDGO.ID — Oknum di PTPN IV Kebun Pulu Raja Afdeling IV Kabupaten Asahan Sumatera Utara, Karyawan atau Staf yang menangani bagian pemeliharaan diareal kebun di duga adanya kesengajaan menggelapkan dana pemeliharaan untuk tanaman TU nya yang di perkirakan baru berusia 6 bulan tanam.

Berdasarkan informasi yang didapat dari narasumber, Supri Agus (50) Kabiro Asahan Media Online Metro7.co.id dan juga selaku Ketua AWDI DPC Asahan, kepada beberapa awak media lainya mengatakan, Senin pagi (13/9). “Ada dugaan kuat oknum di afdeling IV Pulu Raja ini menggelapkan dana pemeliharaan kebun dan saya sudah berulang kali menghubungi pihaknya untuk meminta kelarifikasi langsung namun yang bersangkutan tidak ingin ditemui. Bahkan saya sudah dua kali kekantornya sangat disayangkan kantornya sudah tutup,” ujar Supri Agus kepada beberapa media online lainya.

Berdasarkan informasi yang kami dapat dari narasumber terkait adanya dugaan tersebut, guna mendapatkan liputan berita yang akurat, sejumlah Kru awak media pun langsung turun ke lokasi areal kebun TMB 1, lokasinya tidak jauh dari kantor Afdeling IV Kebun Pulu Raja. Senin siang, 13 September 2021.

Sesampainya dilokasi diterangkan narasumber. “Diareal ini kita menemukan banyaknya tanaman kelapa sawit pada tanaman ulang (TU) dengan kondisi tanaman yang sangat memprihatinkan, banyaknya tanaman kelapa sawit dengan kondisi sampai di kelambui dengan tanaman penutup tanah (mucuna), serta di dapati areal yang luasnya hampir 10 hektare tersebut dengan kondisi piringan yang sangat kotor,” ujar Supri Agus

Supri Agus yang juga terbilang salah satu Pemerhati BUMN ini menyebutkan hasil risetnya menyatakan bahwasanya Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) tentunya sangat di prioritaskan dalam hal perawatan, maka dari itu TBM yang usia tanamnya masih sangat muda oleh perusahaan di anggarkan biaya nya dengan yang cukup besar.

Lanjutnya, Dengan istilah P1/4M, artinya dalam satu bulan TBM harus tembus rotasi pengerjaanya, baik itu buka piringan pokok, maupun Dongkel Anak Kayu (DAK), tentunya jika program kerja tersebut di laksanakan dengan sebenarnya, pastinya kita tidak akan menemukan pohon kelapa sawit dengan kondisi seperti ini, jelasnya

Ket foto: Kantor Afdeling IV Pulu Raja Kabupaten Asahan dalam kondisi sudah tutup.

Terkait hal tersebut, sejumlah awak media yang ikut turun kelokasi bermaksud sekaligus untuk melakukan konfirmasi kepada oknum yang bersangkutan dikantor Afdeling IV Kebun Pulu Raja, namun sangat di sayangkan, sekitar pukul 15.15 WIB kondisi kantor Afdeling IV Pulu Raja lagi lagi sudah tutup, sehingga kami belum juga mendapatkan keterangan resmi dari perusahaan terkait hal tersebut.

Lebih lanjut Supri Agus menambahkan, Maka jika di lihat dari kondisi pohon kelapa sawit, dengan kondisi yang sangat semak piringan pokoknya, dengan tanaman Mucuna yang memanjat ke pohon kelapa sawit, sehingga terkesan pohon kelapa sawitnya di kelambui oleh tanaman Mucuna, sehingga timbul dugaan jika areal TBM tersebut sudah hampir 3 bulan belum di kerjakan Dongkel Anak Kayu (DAK) dan buka piringan nya.

Dalam hal dugaan ini, maka kerugian negara yang di timbulkan dapat mencapai ratusan juta rupiah dari dugaan penggelapan biaya pemeliharaan TBM Kelapa Sawit tersebut, dengan norma perkalian Rp 7500/pokok untuk dana pemeliharaan buka piringan dan Dongkel Anak Kayu (DAK), dan dalam setiap hektarnya untuk tanah rata ada 120 pokok.

Sabtu 18 September 2021, saat dikonfirmasi ulang melalui Via WA. “Permasalahan ini akan kami lanjutkan ke kantor direksi PTPN IV Medan, pihak kami akan melayangkan surat dengan tembusan ke menterian BUMN, dan apa bila tidak ada tanggapan juga maka kami akan buat laporan ke pihak yang lebih berkompeten”, ujar Supri Agus diakhir keteranganya. [*/red68]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.